Jumat, 20 Mei 2011

Akhwat Jatuh Cinta??

Tidak ada yang aneh, mereka juga adalah manusia..
Bukankah cinta adalah fitrah manusia??
Tidak pantaskah akhwat jatuh cinta??
Mereka juga punya hati dan rasa..

Tapi tahukah kalian betapa berbezanya mereka saat cinta seorang lelaki menyapa hatinya??
Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu di wajah, tak ada buncah suka di dada..
Namun sebaliknya..

Ketika Akhwat Jatuh Cinta..~

Yang mereka rasakan adalah penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap..
Ketika lelaki yang tak halal baginya, berawangan dalam alam fikirannya..
Yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besar akan cinta yang tak suci lagi..
Ketika rasa rindu mulai merekah di hatinya..
Yang mereka rasakan adalah kesedihan yang tak terperih akan sebuah rasa yang tak semestinya..

Tak ada senyum bahagia, tak ada rona malu..
Yang ada adalah malam-malam yang dipenuhi air mata penyesalan atas cinta-Nya yang ternodai..
Yang ada adalah kegelisahan, kerana rasa yang salah arah..
Yang ada adalah penderitaan akan hati yang mulai sakit..

Ketika Akhwat Jatuh Cinta..~

Bukan harapan untuk bertemu yang mereka nantikan..
Tapi yang ada adalah rasa ingin menghindar dan menjauh dari orang tersebut..
Tak ada kata-kata cinta dan rayuan..
Yang ada adalah kekhawatiran yang amat sangat..
Akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya..

Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah..
Kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh..
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya..
Bahkan pada saat itu dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan..

Alangkah kasihannya jika akhwat jatuh cinta..
Kerana yang ada adalah penderitaan..

Tapi ukhti..
Bersabarlah..
Jadikan ini ujian dari Rabbmu..

Matikan rasa itu secepatnya..
Pasang tembok pembatas antara kau dan dia..
Pasang duri dalam hatimu, agar rasa itu tak tumbuh bersemai..
Cuci dengan air mata penyesalan akan hijab yang sempat tersingkap..
Putar balik kemudi hatimu, agar rasa itu tetap terarah hanya padaNya..
Pupuskan rasa rindu padanya dan kembalikan dalam hatimu rasa rindu akan cinta Rabbmu..

Ukhti..
Jangan khawatir kau akan kehilangan cintanya..
Kerana bila memang kalian ditakdirkan bersama..
Maka tak akan ada yang dapat menghalang kalian bersatu..
Tapi ketahuilah..
Bagaimana pun usaha kalian untuk bersatu..
Jiika Allah tak menghendakinya, maka tak akan pernah kalian bersatu..

Ukhti..
Bersabarlah..
Biarkan Allah yang mengaturnya..
Maka yakinlah..
Semuanya akan baik-baik sahaja..

~..Semua Akan Indah Pada Waktunya..~

Continue Reading...

Muslimah cantik, ilmunya mumpuni

MUSLIMAH yang cerdas selalu menyadari arti pentingnya ilmu. Dia tidak akan pernah lupa untuk memberikan perhatian kepada akalnya, sebagaimana dia memberikan perhatian kepada tubuhnya. Dengan demikian, seperti halnya laki-laki, muslimah juga dibebani kewajiban untuk menuntut ilmu yang bermanfaat bagi agama dan dunianya.Ketika membaca firman Allah berbunyi, “Dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.”(Thaha: 114), dan sabda Rasulullah SAW, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim dan muslimah,”seorang muslimah cerdas akan mengerti bahwa petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah meliputi laki-laki dan juga wanita.Sejak awal kemunculan Islam, segenap wanita beriman telah menyadari pentingnya nilai keilmuan.
Para wanita Anshar ketika itu berkata kepada Rasulullah, “Wahai Rasulullah, berikanlah kesempatan satu hari saja agar kami dapat belajar darimu, agar kami tidak kalah dengan kaum laki-laki.” Beliau lantas berkata, “Baiklah, tempat belajar kalian di rumah si Fulan.”Kemudian beliau pun datang ke rumah tersebut, lalu memberikan nasihat, mengingatkan dan mengajari mereka. (HR. Al-Bukhari)
Dengan senang hati para wanita muslimah menuntut ilmu. Mereka tidak malu-malu untuk bertanya mengenai hukum-hukum yang berkenaan dengan agamanya. Ini mengingat, mereka menanyakan tentang kebenaran, dan sesungguhnya Allah tidak pernah malu terhadap kebenaran. Begitu banyak teks-teks yang menggambarkan keberanian wanita muslimah, kematangan kepribadiannya, serta kecemerlangan otaknya.…Dengan senang hati para wanita muslimah menuntut ilmu. Mereka tidak malu-malu untuk bertanya mengenai hukum-hukum yang berkenaan dengan agamanya

…Diriwayatkan dari Aisyah bahwa Asma’ binti Yazid bin As-Sakan Al-Anshariyah pernah bertanya kepada Nabi Muhammad mengenai mandi dari haid. Maka beliau menjawab, “Hendaklah salah seorang di antara kalian menyediakan air yang bercampur dengan daun sidr, lalu bersucilah dengan sebaik-baiknya.Setelah itu tuangkanlah air dan gunakanlah secarik kain atau kapas yang telah diberi wewangian, untuk selanjutnya bersihkanlah darah haid itu dengannya.”Selain itu, Asma’ binti Yazid juga bertanya tentang mandi junub, maka Rasulullah menjawab, “Ambil air dan bersucilah dengannya secara baik. Kemudian guyurkanlah air di atas kepalamu dan gosok-gosoklah kulit dan rambutmu hingga rata. Setelah itu tuangkanlah air ke seluruh tubuh.”(HR. Al-Bukhari dan Muslim)Lalu Ummu Sulaim binti Milhan, ibunda Anas bin Malik, pernah datang kepada Rasulullah, dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah tidak malu terhadap kebenaran, maka aku pun tidak malu untuk bertanya, “Apakah wanita wajib mandi apabila bermimpi?” Rasulullah menjawab, “Ya, apabila dia melihat adanya air mani.”Demikianlah, sehingga Ummul Mukminin Aisyah mengomentari, “Sebaik-baiknya wanita adalah wanita Anshar. Mereka tidak malu-malu untuk bertanya mempelajari dan memahami agamanya.” Pada masa generasi sahabat, kaum wanita tidak segan-segan untuk menanyakan langsung hukum-hukum agama kepada Nabi Muhammad tentang masalah-masalah yang mereka alami. Hal ini mereka lakukan apabila mereka merasa ragu terhadap jawaban atau fatwa yang diberikan orang lain, atau apabila mereka merasa ragu terhadap jawaban atau fatwa yangdiberikan kepada selain Rasulullah. Tindakan demikian merefleksikan sikap wanita cerdas yang benar-benar sadar akan ajaran agamanya.Hal di atas juga benar-benar direfleksikan seorang sahabat wanita bernama Subai’ah binti Harits Al-Aslamiyah, saat dia hidup bersama Said bin Khaulah. Said harus syahid di Perang Badar, dan meninggalkan Subai’ah yang tengah hamil. Sepeninggal Said, Subai’ah pun melahirkan. Ketika telah suci dari nifasnya, Subai’ah berdandan untuk menyambut para peminang. Maka datanglah Abu Sanabil bin Ba’kak (laki-laki dari Abud-Dar) seraya berkata kepada Subai’ah, “Aku melihatmu berdandan untuk menyambut kedatangan seorangpeminang, apakah engkau ingin menikah? Demi Allah, engkau tidak boleh menikah sebelum engkau melewati masa iddah, 4 bulan 10 hari.”Maka Subai’ah pun berkata, “Ketika dia mengatakan hal itu kepadaku, aku pun segera mengemas pakaianku dan bertolak menuju kediaman Rasulullah. Pada saat mendatangi Rasulullah, aku bertanya kepada beliau mengenai hal itu. Maka beliau menjelaskan kepadaku bahwa aku diperbolehkan sejak aku melahirkan, dan memerintahkanku untuk segera menikah jika telah menemukan pasangan yang cocok.”Upaya Subai’ah untuk mencari tahu tentang hukum syariat, dan kegigihannya dalam menuntut keyakinan telah mendatangkan kebaikan, berkah, dan manfaat, bukan hanya bagi Subai’ah saja, tetapi juga bagi kaum muslimin secara keseluruhan hingga Hari Kiamat kelak.Hadits tentang Subai’ah tadi dijadikan pedoman oleh mayoritas ulama salaf dan khalaf (kontemporer), terutama imam mazhab yang empat. Mereka (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Asy-Syafi’i dan Imam Ahmad) berpendapat bahwa iddah wanita hamil yang ditinggalmati suaminya adalah melahirkan, meski apabila dia melahirkan setelah ditinggal mati suaminya beberapa saat sebelum jenazah suaminya dimandikan.
Dengan demikian, betapa besarnya kontribusi Subai’ah bagi wawasan hukum syariat. Kesungguhan dan kegigihannya untuk mencari tahuserta menuntut ilmu syariat mampu memberikan secercah cahaya bagi orang-orang yang hidup setelahnya. Islam mewajibkan kaum wanita untuk menuntut ilmu seperti halnya telah diwajibkan kepada kaum laki-laki. Oleh karena itu, tidak heran jika kita menemukan wanita muslimah yang sangat gigih dalam mencari ilmu dan memahami masalah-masalah yang berkenaan dengan syariat Islam.…Muslimah yang sadar akan petunjuk agamanya akan senantiasa menyadari pentingnya membekali diri dengan ilmu bermanfaat…Muslimah yang sadar akan petunjuk agamanya akan senantiasa menyadari pentingnya membekali diri dengan ilmu bermanfaat. Keilmuan yang dimiliki sangat bermanfaat bagi kepribadiannya, putra-putrinya, keluarga dan masyarakatnya. Seorang muslimah yang cerdas tidak hanya memahami definisi kecantikan hanya dari aspek fisikan-sich. Seorang muslimah terlihat menawan jika memiliki pengetahuan keislaman yang baik. Apalah gunanya cantik secara fisik tapi buta akan Islam dan tidak bisa membedakan mana yang baik dan benar, mana yang halal dan haram, dan lainnya.Bagaimanapun kondisi fisiknya, orang yang berilmu akan tetap terlihat memesona. Sehingga, ketika diminta untuk membuat perumpamaan tentang madu, mangkuk, dan rambut oleh Rasulullah, Utsman bin Affan berkata, “Ilmu itu lebih manis dari madu, orang berilmu lebih cantik dari mangkuk yang indah, namun mencari orang berilmu yang mampu mengamalkan ilmunya dengan sempurna, susahnya sama dengan meniti sehelai rambut.”
Jadi, akan lebih ideal jika kecantikan fisik dibarengi dengan keilmuan mumpuni. Muslimah cantik dan berilmu luas merupakan dambaan setiap pria shalih. [ganna pryadha/voa-islam.com]
Continue Reading...

Akhwat Keren

BE A TRENDSETTER SYAR’I??? WHY NOT!!!!"AKHWAT KEREN",,,,

Ketika ukhti semua membaca dua buah kata di atas, kira-kira…. Apa yang akan terlintas di benak ukhti-ukhti semua???Apakah seorang wanita muslimah dengan pakaian rapat nan ketat keluaran terbaru, jins belel, serta tambahan aksesoris kerudung gaul yang dengan ribetnya dililit-lilitkan ke leher sampai-sampai “sang muslimah jadi-jadian” tercekik dan kesulitan untuk melengok kanan-kiri untuk sekedar menyapa sahabatnya???Atau,, seorang muslimah yang menjadi bintang “Akademi Fantasi Kampus” atau “Kampus Idol” yang dengan bangganya mengobral murah suara merdunya di depan khalayak ramai serta poster wajah imuttnya ditempelkan dimana-mana???Atau lagi,,,seorang wanita muslim yang menjadi trendsetter(model) karena ke_cool_an penampilan dan fisiknya yang dianggap bisa merubah paradigma tentang jilbab??Astaghfirullahal”adhim…..

Jika memang itu yang Anti pikirkan dan menjadi tolok ukur untuk mengatakan seorang akhwat keren, mungkin bidadari-bidadari syurga akan jauh dan tidak akan pernah merasa cemburu kepada kita wanita-wanita dunia.Hayoo..Siapa yang mau dicemburui oleh para bidadari syurga???Dikatakan dalam sebuah hadist, diriwayatkan oleh HR Thabrani , dari Ummu Salamah.“Aku bertanya (Ummu Salamah) “ Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?Beliau menjawab “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada Bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang nampak dari apa yang tidak terlihat”Aku bertanya “ Mengapa wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari?”Beliau menjawab “ Karena sholat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah, Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya “putih bersih, sanggulnya mutiara, dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata” Kami hidup abadi dan tidak pernah mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat saman sekali. Berbahagialah orang yang memiliki dan kami memilikinya”.(HR Thabrani, dari Ummu Salamah)

Demikianlah, menjadi akhwat keren bukan berarti selalu berpenampilan modis dan gaul abiZzZ.. Bukan berarti akhwat yang memakai baju-baju trendy (walaupun tetap menjunjung syarat “asal Tertutup Saja”)Menurut pemikiran Ana (Mudah-mudahan benar dan dapat diterima) akhwat keren adalah seorang muslimah yang dengan segala ketawadhua’annya menjaga kesucian akhlak, hati, dan auratnya serta mendayagunakan semua potensi yang ada secara maksimal di jalan AllahuRabbi….Tentunya mereka selalu tetap menjaga ke-syar’i-an aktivitasnya.So, what can we do ukh’??? Apa yang bisa kita lakukan agar tetap keren di mata Allah, orang tua, dan teman-teman??Always be confident gals!!!Biarlah para sahabat kita mencemooh pakaian takwa (yang seharusnya memang dipakai oleh para wanita muslimah). Biarlah kita gak ikut-ikutan trend memakai pakaian gaul yang ukurannya terlalu “small”, dan sebenarnya diperuntukkan untuk adek-adek kita yang masih SD.Jadi PD aja lagi!!! Mengapa??? Karena keraguan, kecemasan gak dianggap gaul, rasa rendah diri merupakan cara syetan untuk menghalangi kita dari ketaatan kepada Allah.. Biarlah mereka berkomentar “Sok alim”, (atau apalah)… Yah dari pada “Sok bejat”, Ya nggak!!!Next, be confident that you can do that!!!Ayoo..Anti pasti bisa!!!Keluarkan semua potensi dan kemampuanmu di jalan Allah….

Be a akhwat, bukan berarti gak bisa berprestasi dunkZzZ!! YupsS… berprestasi dalam artian selalu memegang teguh pada perintah Allah.Gunakanlah potensi anti untik meraih keridhoan Allah,,Apa gunanya kita pamer ke-kerenan, bakat hanya untuk mencari perhatian khalayak ramai??? Kalau mau cari perhatian, pada Allah saja. Lebih murah, gampang, tidak jayus, dan pasti lebih mendidik dan melahirkan karakter-karakter sejati tanpa perlu penopengan diri.
“Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan …” (An-Nuur:31)

“Sesungguhnya Allah tidak memandang postur tubuh kalian dan tidak pula pada kedudukan maupun harta kekayaan kalian, tetapi Allahmemandang pada hati dan amal perbuatan kalian” (HR Muslim dan Ath Thabarani dari Abu Hurairah)
Akhwat keren adalah akhwat yang gemilang imannya, cerdas pemikirannya, bersinar potensinya, dan baktinya selalu ditunggu oleh orang-orang yang ada di sekitarnya….Saudariku,,,ikhlaskan dirimu untuk tidak mengikuti trend-trend jahil yang gaungnya semakin menjadi-jadi di atas muka bumi ini dengan iming-iming gelar “KEREN”…Saudariku, biarlah kita menjadi trendsetter SYAR’I…Memakai jilbab karena ALLAH, berprestasi karena ALLAH, berdakwah karena ALLAh, mencintai karena ALLAH….. dsan seterusnya HANYA KARENA ALLAH…Kita bisa berkarya dengan berbagai cara (dengan tetap mengikuti aturan Allah tentunya). Biarkan semuanya berjalan sesuai karuniakarakter yang Allah lekatkan pada diri kita.Maka akan tetap ada akhwat jago karate seperti Nusaibah binti Ka’ab yang melindungi Rasulullah kemanapun Beliau bergerak ketika perang. Akan tetap ada yang berkepribadian kuat dan pemberani seperti Ummu Hani’ binti Abu Thalib. Akan tetap ada yang suka bermanja dan ceria seperti Aisyah. Ada yang tetap bisa membentak dan tertawa terbahak seperti Hafsah. Akan tetap ada yang lembut & keibuan seperti Khadijah.Terbitkanlah pesonamu wahai saudariku! Pesona yang muncul karena kecintaan kita kepada Allah. Agar kita tetap bisa terlihat “cool” dan “keren” di mata para sahabat, guru, orang tua, dan Allah…. Sehingga bidadari-bidadari syurga juga akan cemburu melihat pesona keimanan kita. Itu baru namanya KEREEEENNN!!!^_^Kerenkanlah dirimu dengan terus menjaga auratmu, dengan terus meningkatkan prestasi akademikmu, dengan terus mengembangkan bakatdan potensimu, n’ kerenkanlah dirimu dengan niat mencari keridhoan Allah….Last but not the least,, ajak lah para sahabatmu untuk mengkerenkan diri mereka juga di hadapan Allah malalui jalan dakwah,,,Jadilah trendsetter dakwah!!!SO, BE A TRENDSETTER DAKWAH???? WHY NOT!!!!! ^_^
Continue Reading...

Kamis, 28 April 2011

Banyak Sujud Bisa Membuat Otak Kita Sehat

“Sholat itu Bikin Otak Kita Sehat” “Maka dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan Berkurbanlah”. Q.S Al Kautsar (102) : 2
“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukuklah beserta orang-orang yang rukuk”. QS. Al-Baqarah (2) ayat 43.
Rasulullah saw bersabda:“Barangsiapa menghadap Allah (meninggal dunia), sedangkan ia biasa melalaikan Shalatnya, maka Allah tidak mempedulikan sedikit-pun perbuatan baiknya (yang telah ia kerjakan tsb)”. Hadist Riwayat Tabrani.
Tergantung pada kecintaan dalam mengerjakan sholat. Oleh karena itu kenalilah dirimu sendiri wahai hamba Allah! Takutlah kamu jika nanti menghadap Allah Azza Wa Jalla tanpa membawa kualitas keislaman yang baik. Sebab kualitas keislaman dalam hal ini ditentukan oleh kualitas ibadah sholatmu. (Ibn al Qayyim, ash Sholah, hal 42 dan ash Sholah wa hukmu taarikihaa, hal 170-171)
**
Shalat dan Otak Manusia
Sebuah bukti bahwa keterbatasan otak manusia tidak mampu mengetahui semua rahasia atas rahmat, nikmat, anugrah yang diberikan oleh ALLAH kepadanya. Haruskah kita menunggu untuk bisa masuk diakal kita?
Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut sehingga tidak dapat diterima oleh akal fikiran.
Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Setelah memeluk Islam dia amat yakin pengobatan secara Islam dan oleh sebab itu itu telah membuka sebuah klinik yang bernama “Pengobatan Melalui Al Qur’an” Kajian pengobatan melalui Al-Quran menggunakan obat-obatan yang digunakan seperti yang terdapat didalam Al-Quran. Di antara berpuasa, madu, biji hitam (Jadam) dan sebagainya.
Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar sembahyang waktu yang diwajibkan oleh Islam.
Begitulah keagungan ciptaan Allah. Jadi barang siapa yang tidak menunaikan sembahyang maka otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
**
Kesimpulannya :
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak bersembahyang walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan Secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial Masyarakat saat ini.
Continue Reading...

PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA


Oleh
Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

PENGERTIAN BID’AH
Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.
Badiiu’ as-samaawaati wal ardli
“Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]
Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.
Juga firman Allah.
Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
“Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].
Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.
Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.
Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :
  1. Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.
  2. Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

MACAM-MACAM BID’AH
Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :
  1. Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.
  2. Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :
    • Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.
    • Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.
    • Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    • Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.
HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN
Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].
Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
“Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”.
Dan dalam riwayat lain disebutkan :
“Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.
Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak.
Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.
Tetapi pengharaman tersebut tergantung pada bentuk bid’ahnya, ada diantaranya yang menyebabkan kafir (kekufuran), seperti thawaf mengelilingi kuburan untuk mendekatkan diri kepada ahli kubur, mempersembahkan sembelihan dan nadzar-nadzar kepada kuburan-kuburan itu, berdo’a kepada ahli kubur dan minta pertolongan kepada mereka, dan seterusnya. Begitu juga bid’ah seperti bid’ahnya perkataan-perkataan orang-orang yang melampui batas dari golongan Jahmiyah dan Mu’tazilah. Ada juga bid’ah yang merupakan sarana menuju kesyirikan, seperti membangun bangunan di atas kubur, shalat berdo’a disisinya. Ada juga bid’ah yang merupakan fasiq secara aqidah sebagaimana halnya bid’ah Khawarij, Qadariyah dan Murji’ah dalam perkataan-perkataan mereka dan keyakinan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan ada juga bid’ah yang merupakan maksiat seperti bid’ahnya orang yang beribadah yang keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan shiyam yang dengan berdiri di terik matahari, juga memotong tempat sperma dengan tujuan menghentikan syahwat jima’ (bersetubuh).
Catatan :
Orang yang membagi bid’ah menjadi bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah syayyiah (jelek) adalah salah dan menyelesihi sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Artinya : Sesungguhnya setiap bentuk bid’ah adalah sesat”.
Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menghukumi semua bentuk bid’ah itu adalah sesat ; dan orang ini (yang membagi bid’ah) mengatakan tidak setiap bid’ah itu sesat, tapi ada bid’ah yang baik !
Al-Hafidz Ibnu Rajab mengatakan dalam kitabnya “Syarh Arba’in” mengenai sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Setiap bid’ah adalah sesat”, merupakan (perkataan yang mencakup keseluruhan) tidak ada sesuatupun yang keluar dari kalimat tersebut dan itu merupakan dasar dari dasar Ad-Dien, yang senada dengan sabdanya : “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal baru yang bukan dari urusan kami, maka perbuatannya ditolak”. Jadi setiap orang yang mengada-ada sesuatu kemudian menisbahkannya kepada Ad-Dien, padahal tidak ada dasarnya dalam Ad-Dien sebagai rujukannya, maka orang itu sesat, dan Islam berlepas diri darinya ; baik pada masalah-masalah aqidah, perbuatan atau perkataan-perkataan, baik lahir maupun batin.
Dan mereka itu tidak mempunyai dalil atas apa yang mereka katakan bahwa bid’ah itu ada yang baik, kecuali perkataan sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu pada shalat Tarawih : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, juga mereka berkata : “Sesungguhnya telah ada hal-hal baru (pada Islam ini)”, yang tidak diingkari oleh ulama salaf, seperti mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu kitab, juga penulisan hadits dan penyusunannya”.
Adapun jawaban terhadap mereka adalah : bahwa sesungguhnya masalah-masalah ini ada rujukannya dalam syari’at, jadi bukan diada-adakan. Dan ucapan Umar Radhiyallahu ‘anhu : “Sebaik-baik bid’ah adalah ini”, maksudnya adalah bid’ah menurut bahasa dan bukan bid’ah menurut syariat. Apa saja yang ada dalilnya dalam syariat sebagai rujukannya jika dikatakan “itu bid’ah” maksudnya adalah bid’ah menurut arti bahasa bukan menurut syari’at, karena bid’ah menurut syariat itu tidak ada dasarnya dalam syariat sebagai rujukannya.
Dan pengumpulan Al-Qur’an dalam satu kitab, ada rujukannya dalam syariat karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan penulisan Al-Qur’an, tapi penulisannya masih terpisah-pisah, maka dikumpulkan oleh para sahabat Radhiyallahu anhum pada satu mushaf (menjadi satu mushaf) untuk menjaga keutuhannya.
Juga shalat Tarawih, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat secara berjama’ah bersama para sahabat beberapa malam, lalu pada akhirnya tidak bersama mereka (sahabat) khawatir kalau dijadikan sebagai satu kewajiban dan para sahabat terus sahalat Tarawih secara berkelompok-kelompok di masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup juga setelah wafat beliau sampai sahabat Umar Radhiyallahu ‘anhu menjadikan mereka satu jama’ah di belakang satu imam. Sebagaimana mereka dahulu di belakang (shalat) seorang dan hal ini bukan merupakan bid’ah dalam Ad-Dien.
Begitu juga halnya penulisan hadits itu ada rujukannya dalam syariat. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menulis sebagian hadits-hadist kepada sebagian sahabat karena ada permintaan kepada beliau dan yang dikhawatirkan pada penulisan hadits masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara umum adalah ditakutkan tercampur dengan penulisan Al-Qur’an. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah wafat, hilanglah kekhawatiran tersebut ; sebab Al-Qur’an sudah sempurna dan telah disesuaikan sebelum wafat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka setelah itu kaum muslimin mengumpulkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagai usaha untuk menjaga agar supaya tidak hilang ; semoga Allah Ta’ala memberi balasan yang baik kepada mereka semua, karena mereka telah menjaga kitab Allah dan Sunnah Nabi mereka Shallallahu ‘alaihi wa sallam agar tidak kehilangan dan tidak rancu akibat ulah perbuatan orang-orang yang selalu tidak bertanggung jawab.


[Disalin dari buku Al-Wala & Al-Bara Tentang Siapa Yang harus Dicintai & Harus Dimusuhi oleh Orang Islam, oleh Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan, terbitan At-Tibyan Solo, hal 47-55, penerjemah Endang Saefuddin.]

Continue Reading...

Selasa, 29 Maret 2011

Hukum Mendengarkan Musik dan Lagu Serta Mengikuti Sinetron (Menonton)

Oleh
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin
Pertanyaan
Syaikh Muhamamd bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : Apa hukum mendengarkan musik dan lagu ? Apa hukum menyaksikan sinetron yang di dalamnya terdapat para wanita pesolek ?
Jawaban
Mendengarkan musik dan nyanyian haram dan tidak disangsikan keharamannya. Telah diriwayatkan oleh para sahabat dan salaf shalih bahwa lagu bisa menumbuhkan sifat kemunafikan di dalam hati. Lagu termasuk perkataan yang tidak berguna. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.
“Artinya : Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan”.[Luqman : 6]
Ibnu Mas’ud dalam menafsirkan ayat ini berkata : “Demi Allah yang tiada tuhan selainNya, yang dimaksudkan adalah lagu”.
Penafsiran seorang sahabat merupakan hujjah dan penafsirannya berada di tingkat tiga dalam tafsir, karena pada dasarnya tafsir itu ada tiga. Penafsiran Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an, Penafsiran Al-Qur’an dengan hadits dan ketiga Penafsiran Al-Qur’an dengan penjelasan sahabat. Bahkan sebagian ulama menyebutkan bahwa penafsiran sahabat mempunyai hukum rafa’ (dinisbatkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Namun yang benar adalah bahwa penafsiran sahabat tidak mempunyai hukum rafa’, tetapi memang merupakan pendapat yang paling dekat dengan kebenaran.
Mendengarkan musik dan lagu akan menjerumuskan kepada suatu yang diperingatkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya.
“Artinya : Akan ada suatu kaum dari umatku menghalalkan zina, sutera, khamr dan alat musik”.
Maksudnya, menghalalkan zina, khamr, sutera padahal ia adalah lelaki yang tidak boleh menggunakan sutera, dan menghalalkan alat-alat musik. [Hadits Riwayat Bukhari dari hadits Abu Malik Al-Asy'ari atau Abu Amir Al-Asy'ari]
Berdasarkan hal ini saya menyampaikan nasehat kepada para saudaraku sesama muslim agar menghindari mendengarkan musik dan janganlah sampai tertipu oleh beberapa pendapat yang menyatakan halalnya lagu dan alat-alat musik, karena dalil-dalil yang menyebutkan tentang haramnya musik sangat jelas dan pasti. Sedangkan menyaksikan sinetron yang ada wanitanya adalah haram karena bisa menyebabkan fitnah dan terpikat kepada perempuan. Rata-rata setiap sinetron membahayakan, meski tidak ada wanitanya atau wanita tidak melihat kepada pria, karena pada umumnya sinetron adalah membahayakan masyarakat, baik dari sisi prilakunya dan akhlaknya.
Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar menjaga kaum muslimin dari keburukannya dan agar memperbaiki pemerintah kaum muslimin, karena kebaikan mereka akan memperbaiki kaum muslimin. Wallahu a’lam.
[Fatawal Mar'ah 1/106]
[Disalin dari kitab Al-Fatawa Al-Jami'ah Lil Mar'atil Muslimah, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Tentang Wanita, Penyusun Amin bin Yahya Al-Wazan Penerbitan Darul Haq. Penerjemah Amir Hamzah Fakhrudin]
Continue Reading...

Minggu, 27 Maret 2011

Kematian Dtang Menjemput


Sakaratul Maut dan Khusnul Khatimah

Oleh: Abdurrahman ibn Abdil Ghaits
Orang yang meregang nyawa, di ambang pintu kematian mengalami rasa sakit yang bukan alang kepalang. Saat-saat kritis itulah yang disebut dengan sekarat atau sakratul maut.
Kematian yang wajar dan normal dapat dikenali dengan beberapa tanda. Di antara tanda-tanda datangnya kematian itu adalah:
1.      Orang yang mau meninggal akan melihat malaikat maut. Jika dia termasuk calon orang yang berbahagia maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang bagus, dan melihat malaikat rahmat berwajah putih. Mereka membawa kafan dan tikar dari sorga. Mereka duduk dari padanya sejauh mata memandang. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan berkata: “Keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaan-Nya!” Adapun jika dia termasuk calon orang yang celaka, maka dia akan melihat malaikat maut dalam rupa yang lain, serta melihat malaikat adzab menghitam wajahnya. Mereka membawa kafan dan tikar dari api neraka. Kemudian datanglah malaikat maut seraya duduk di sisi kepalanya dan memberinya kabar gembira dengan kemurkaan Allah atasnya, dan dia melihat tempat duduknya di neraka. Berkatalah malaikat maut: “Keluarlah wahai jiwa yang keji, dan bergembiralah dengan kemurkaan dan kemarahan Allah!”
2.      Dengan keadaan yang demikian, saat orang yang mau meninggal melihat malaikat maut, diapun lemas, tidak bisa berkutik, mual, merasakan pedihnya sekarat, dan kesusahan, tidak mampu berkata-kata. Dia mendengar tapi tidak mampu menjawab, melihat tapi tidak mampu menerangkannya, hatipun kacau, detak jantung sudah tidak beraturan, kadang dia tersadar, kadang dia pingsan karena pedihnya sakaratul maut. Ya Allah, tolonglah kami atas sakaratul maut.
Tanda-tanda yang menunjukkan seseorang itu telah meninggal:
1.      Terbelalaknya mata, berdasarkan hadits Ummu Salamah, dia berkata : “Rasulullah masuk kepada Abu Salamah, sementara matanya telah terbelalak kemudian Nabi memejamkannya seraya bersabda: ”Sesungguhnya jika roh itu dicabut, mata akan mengikutinya….” (HR. Muslim dan Ahmad)
2.      Condongnya hidung kearah kanan atau kiri
3.      Kendur (terbuka)nya rahang bawah, karena kendurnya seluruh anggota tubuh secara umum.
4.      Diam dan berhentinya detak jantung.
5.      Mendinginnya seluruh tubuh secara umum.
6.      Merapatnya betis kanan dengan betis kiri, dan sebaliknya berdasarkan firman Allah : “Dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan).” (QS. al-Qiyamah: 29)
  
Apa yang harus kita lakukan setelah kita yakin akan kematiannya?
1.      Memejamkan kedua matanya
2.      Menutupkan mulutnya
3.      Melemaskan tulang-tulang persendian seketika, satu jam setelah kematiannya, untuk memudahkan pemindahan, pemandian dan pengkafanannya.
4.      Meletakkan pemberat yang sesuai di atas perutnya agar tidak menggelembung jika tidak disegerakan prosesi pemandiannya.
5.      Menutup seluruh lubang tubuh hingga diselenggarakan perawatannya.
6.      Mempercepat penyelenggaraan jenazah, berdasarkan sabda Nabi “Bersegeralah kalian (menyelenggarakan) jenazah, jika dia shalih, maka sebuah kebaikan telah kalian ajukan, jika selain itu maka sebuah keburukan yang kalian letakkan dari leher-leher kalian.” (HR. Bukhari)
7.      Bersegera membayarkan hutangnya, berdasarkan hadits Abu Hurairah dari Nabi beliau bersabda:”Jiwa seorang mukmin tergadaikan oleh hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Turmudzi)
Khusnul khatimah dan tanda-tandanya:
1.      Hadits pertama dari Mu’adz, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa akhir ucapannya di dunia ini adalah Laa Ilaha Ilallah, dia masuk sorga.” (HR. Abu Dawud, dan al-Hakim)
2.      Hadits kedua dari Buraidah ibn Hushaib dia berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda: “Kematian seorang mukmin (ditandai dengan) keringat di dahi.” (HR. Ahmad, Nasa’i, Turmudzi dan lainnya)
3.      Hadits ketiga dari Abdullah ibn ‘Amr, dia berkata, Rasulullah bersabda: “Tidak ada seorang muslimpun yang meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at melainkan dia akan dibebaskan dari siksa kubur.” (HR. Turmudzi)
4.      Dan di antara tanda khusnul khatimah adalah mati di saat menjalankan keta’atan kepada Allah dan rasul-Nya, seperti meninggal dalam keadaan shalat, atau puasa, atau haji, umrah atau dalam keadaan berjihad di jalan Allah atau dalam dakwah kepada Allah. Dan barangsiapa dikehendaki baik oleh Allah, Dia akan memberinya taufik untuk beramal shalih kemudian mencabut nyawanya.
5.      Pujian baik oleh sekumpulan kaum muslimin atasnya, berdasarkan hadits Anas, dia berkata, (Para sahabat) pernah melewati sebuah jenazah, kemudian mereka memuji kebaikan atasnya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Kemudian mereka melewati sebuah jenazah yang lain, lalu mereka mengutarakan keburukannya. Maka Nabi bersabda: “Wajib.” Maka Umar berkata: “Apa yang wajib?” Beliau bersabda:
“Yang ini kalian menyebut baik atasnya, maka wajib baginya sorga, sementara yang itu kalian menyebut buruk atasnya maka wajib baginya neraka, kalian adalah saksi Allah di bumi-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)
6.      Tanda-tanda yang bisa dilihat dari si mayit setelah kematiannya:
a. Senyuman di wajah
b. Terangkatnyajari telunjuk, yang menunjukkan syahadat tauhid
c. Bersinar, dan bercahayanya wajah karena kegembiraan menerima kabar gembira yang didengarnya dari malaikat maut.
Adapun tanda su’ul khatimah banyak dan bermacam-macam, di antaranya:
1.      Mati di atas kesyirikan, atau meninggalkan shalat dengan meremehkan perintah-perintah Allah dan rasul-Nya, begitupula mereka yang mati saat mendengarkan nyanyian (musik), suara seruling, sinema, atau film komedi, dan mereka yang mati di atas perbuatan-perbuatan keji secara umum, begitupula yang mati dengan khamr (miras) dan narkoba.
2.      Di antara tanda yang tampak pada mayat setelah kematiannya adalah; murung, gelap dan menghitamnya wajah, karena kengerian yang dirasakan saat mendengar berita buruk tentang murka Allah dari malaikat maut. Kadang-kadang warna hitam ini menyelimuti seluruh tubuh -wal ‘iyadzu billah-.
Saya nasihatkan kepada orang-orang yang sembrono dalam menunaikan ibadah shalat —terutama yang meninggalkannya— agar segera bertaubat kepada Allah, dan segera menjaga shalat tersebut hingga mendapatkan kekhusyu’an di dalamnya. Dikarenakan shalat adalah tiang agama Islam, dan sesungguhnya (pembatas) antara seseorang dengan kekufuran adalah meninggalkan shalat sebagaimana suri tauladan dan Nabi kita Muhammad telah mengajarkan: “Perjanjian antara kita dan mereka (orang-orang munafik) adalah shalat, maka barangsiapa meninggalkannya, dia telah kufur.” (HR. Ahmad dan Malik)
Shalat adalah sebenar-benar perisai bagi pelakunya, dialah pencegah dari perbuatan keji dan munkar, Allah berfirman : “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Maka di manakah anda —mudah-mudahan Allah menjaga anda- dari perisai ini?! Di manakah anda dari sungai yang akan menghapus dosa-dosa anda sebanyak lima kali dalam sehari semalam ini? Bertaubatlah saudaraku sekarang juga, sebelum hilangnya kesempatan! Dan sebelum datangnya malaikat maut secara tiba-tiba. Dikarenakan panen dari sesuatu yang telah engkau tanam di dunia dimulai saat malaikat maut memerintahkan ruh untuk keluar darimu. Maka bercocok tanamlah kebaikan, engkau akan senang dengan hasilnya!
Adapun orang yang berpaling dari kebaikan ini, dan dia meninggalkan shalat, maka tanda-tanda su’ul khatimahnya adalah hitam yang menyelimuti seluruh tubuhnya saat jenazahnya dimandikan. Kita berlindung kepada Allah dari kehinaan.
(Abdurrahman ibn Abdil Ghaits; dalam Kitab Al-Wajiz fi Tajhizil Jinazah)
Continue Reading...
 

Blogroll

Total Tayangan Halaman

Jam

Inspirasi Anak Muda Copyright © 2009 WoodMag is Designed by Ipietoon for Free Blogger Template